Desember kembali mengirimkan hujannya padaku. kini
melalui seorang yang menyebut dirinya perupa. Kami terlibat percakapan yang
cukup tak beralasan. Namun segalanya merupa air. Mengalir dari satu entah ke
banyak entah yang lain. Dan (sepertinya), kami menikmatinya.
***
Tak ada yang lebih menyedihkan selain membicarakan
diri sendiri. Celakanya, kau memilih topik itu sebagai percakapan kita. Ya,
bagaimanapun, kenangan akan selamanya berujung pada entah tak bertuan. Lengah
sedetik saja, maka kau akan terperangkap didalamnya. Dan sepertinya, kau begitu
nyaman berada disana. Tepat seperti pengakuanmu, kau tak pandai menjemput bola.
Kau lebih memilih diam dan menunggu. Mengalienasi diri dengan sebongkah
imajinasi dan bangku kosong yang selalu menanti.
Ah. ternyata masa lalumu tak lebih menyedihkan
dibanding kau di kekinian. Aku yang baru sedikit mengenalmu, setidaknya dari
malam tadi, merasa kau yang kini begitu berbanding terbalik dengan kau di
hari-hari lalu. Kini begitu sibuk kau memilin percakapan dengan satu dan banyak
lainnya. Dan itu membuatmu tampak semakin… aneh.
Bagai tak ada hari esok, begitu meluap kau berkisah
perihal segala. Dan bodohnya aku, yang sesetia itu menjadi pendengarmu. Ah.
dunia begitu naif bukan. Senaif itulah dirimu. Menjamin siapa saja yang kau
kenal menemu bahagia. Namun secepat itu pula kau berkata bahwa tak ada
kebahagiaan yang murni. Sama seperti orisinalitas yang nyatanya tak pernah
benar-benar ada. Ya, sebab selamanya tak akan ada yang baru di bawah sinar
matahari.
Maka lengkap sudah kau larut dalam khayalan. Dan dejavu itu menjadi petanda, bahwa
sesetia itulah kau melagukan asamu. Meski sepertinya kau sedikit berbeda,
terkadang kau menjadi orang kebanyakan. Begitu tegak meneguhkan prinsip. Ah,
lagi-lagi kau begitu naif. Selengkap ketika kau berbicara perasaan, feeling,
dan entah lainnya yang merasukimu untuk melakukan sesuatu. Namun sesegera itu
pula kau berbicara perihal kemampuan, dan feeling
yang bisa saja tak tersampaikan.
Kita tak ubahnya media bagi diri kita sendiri.
Menjaja dengan pelbagai tampilan dan kemasan. Serupa iklan sabun mandi dan
bedak bayi. Segalanya berumah pada satu tujuan. Menciptakan gengsi.
Mengikrarkan status. Rupanya begitu fasih kau berbincang perihal visual dan
suatu semiotika. Tak heran kau begitu nyaman berada di dunia itu. Sebuah
pelarian untuk pengungkapan yang selalu tak terstruktur di verbalmu.
Andai saja kau tahu, untuk di beberapa kisah, kau
sama sepertiku. Mengalienasi diri, menempatkan kenangan, khayalan, dan kekinian
pada satu ruang. Ya, mungkin itulah sebab begitu setianya aku menjadi
pendengarmu . Dan percakapan itu, aku pernah merasakan yang lebih lama. dengan
seorang yang selalu menyimpan kontak hapenya
dengan nama lengkap. seorang yang kini rasanya begitu jauh.
Namun aku tak terbiasa membicarakan diri sendiri
kepada orang lain. Sebab, aku tak ingin terlihat menyedihkan sepertimu. Aku
lebih nyaman menuangkannya dalam bentuk seperti ini. Lagipula, kurasa kau tak
berbakat menjadi pendengar yang setia. Namun bagaimanapun, lagi-lagi aku kalah.
dengan sesiapa saja yang menisbahkan percakapannya denganku. Dan aku yang tak
kuasa untuk tak menuangkannya.
Ya, kau orang kesekian yang berhasil mengalahkanku.
Namun setidaknya, percakapan malam tadi tak kuanggap sebagai entah dan tak
penting lainnya. Tak sepertimu yang menganggap percakapan ini sebagai tak jelas
yang beruntun. Namun bagiku, ialah bagaimana kita menempatkannya, akan kita
apakan percakapan ini setelahnya. Just a
nothing conversation, or something.
Aku menulis. Dan aku memilih percakapan kita sebagai
tokoh utamanya. Ya, sebuah pembuktian. Setidaknya, aku telah berusaha.
Kau ?
***
Desember kembali mengirimkan hujannya padaku. kini
melalui seorang yang menyebut dirinya perupa. Seorang yang selalu meninggalkan
jejak di banyak tempat.
Malam tadi, selepas dia beranjak untuk mengkahiri
percakapan, secepat itu pula aku merekam segala percakapan kami. termasuk
perihal kebahagiaannya yang begitu sederhana: seorang mengetahui nama akhirnya.
Namun aku rupanya tak berani jujur bahwa aku
mengetahuinya, mungkin karena aku tak ingin melihatnya bahagia secepat itu.
haha.
Namun lagi-lagi aku menjadi seorang yang kalah.
Selepas dia beranjak untuk mengakhiri percakapan, secepat itu pula aku
meninggalkan tanda dibawah jejaknya. Enam huruf -yang sebelumnya kukira lima-
yang mungkin buatnya sedikit bahagia.
*****
Postingan yang bagus mbak Himas Nur, saya suka tetapi masih harus membaca berulang agar (sedikit) paham. Blognya bagus, penuh warna, menunjukkan keceriaan dan anak-anak tentunya :D, postingannya bermacam-macam pula. Ada foto-foto kenangan.
BalasHapusSaran saja untuk musiknya lebih baik yang instrumen saja, agar pembaca tidak begitu terganggu, apalagi membaca postingan mbak Himas Nur yang terhitung berat. Itu lumba-lumba tidak capek? tapi lucu hehe.
YRS?
terimakasih untuk apresiasi dan saran yang sudah kak raisa andriani berikan hehe.
BalasHapusiya, itu ceritanya hasil percakapan saya dengan YRS, dan coba saya rekam dalam bentuk tulisan :)
keren kakak, aku penasaran sama YRS. besok aku dikasih tau ya :D
BalasHapus