Ini
kali pertama sebuah kota semacam semarang, mendeklarasikan –atau
dideklarasikan- dirinya sebagai tuan rumah penyelenggara kompetisi baca puisi
tingkat nasional. Dengan total hadiah 50 jeti. Huwow! Tentu ini perkara luar
biasa, memandang semarang tak biasanya mengapresiasi para pemanggung puisi,
terlebih dengan nominal yang terbilang fantastis. Berlatar November hari
kesepuluh dan cerita sejarah yang mengalir didalamnya, sebuah entah, komunitas,
forum, himpunan mahasiswa, danatau entah entah yang lain, menyelenggarakan kompetisi
akbar ini. Kurang-lebih 150 peserta turut andil dalam membantu [seperempat] biaya
operasional kompetisi tersebut melalui biaya pendaftaran yang sangat cukup
untuk menguras uang saku anak kos-an. Yah, itupun bila keseratus-limapuluh tadi
benar benar peserta tulen. Hihihi…
Kompetisi
ini berjurikan 2 orang penyair yang karyanya menjadi pilihan puisi yang musti
dibacakan peserta, dan 1 orang diambil dari dosen sastra di semarang. Hmm.. benar-benar
komposisi yang ciamik dan menarik. Seperti lomba yang lain lain, diadakan temu
teknik atau bahasa kecenya technical
meeting (TM) sehari sebelum pelaksanaan. Namun sayang jadwal tersebut
ternyata hanya berlaku sampai juklak juknis selesai dibuat saja. TM digelar
pada hari yang sama dengan dimulainya kompetisi. Alhasil, pagi hari digunakan
untuk TM dan siangnya kompetisi berlangsung. Namun lagi-lagi sayang, sepertinya
banyak sebab yang melanda kompetisi ini, hingga panitia ketagihan untuk
mengubah rundown acara lagi –itupun
bila ada rundown-. Kompetisi
(kembali) diundur hingga jarum jam menunjuk tiga dan duabelas. Ya, sejak mula memang telah kentara bahwa ada yang
janggal dari mengadanya kompetisi ini.
Malam
telah tutup, pun dengan babak penyisihan. Esoknya kesepuluh finalis diumumkan
untuk meraih 7 penghargaan, yakni juara 1, 2, 3, juara favorit, juara harapan
1, 2 dan…eits, wait a minute!
Bukankah juaranya hanya ada tiga ? itu jelas terpampang nyata bebarengan dengan
25 juta 15 juta dan 10 juta yang berada di bawah tulisan juara 1, 2, 3 dengan font yang sedikit lebih kecil itu. Uh,
iya! yang terpampang nyata itu kan baru sebatas berwujud poster dan juklak
juknis saja. Lagipula toh panitia berhak mengubah peraturan tanpa pemberitahuan
sebelumnya, dan keputusan final sudah barang pasti tak dapat diganggu gugat.
Hahaha.. ya ya ya, sangat berhak!
Oh
iya, rasanya belum afdal bila peserta yang turut menyemarakkan kompetisi ini
tak ikut dilibatkan dalam pembicaraan. Hihihi… baiklah. Mengingat acara ini
bertajuk skala nasional dan umum, tentu saja peserta datang dari penjuru
nusantara, dan dari pelbagai lini profesi, pelajar, mahasiswa, akademisi, seniman
–bila itu disebut profesi-. Mereka mewakili komunitas, universitas, maupun
institusi dimana mereka bernaung. Namun tak sedikit pula yang mewakili dirinya
sendiri.
Untuk
bisa tersebut sebagai peserta, mereka pun terbagi menjadi beberapa golongan. Wah
sudah macam pegawai negeri saja ya, hihihi… golongan pertama ialah Para Pemburu.
Mereka inilah yang melancong dari satu kota ke kota lain. Bahkan tak sedikit
yang sampai singgah ke KL, Sydney, Brunei, dan negara tetangga lainnya. Pelbagai
event sastra, baik perlombaan,
diskusi, proyek pembukuan karya, dan pertemuan
penyair sengaja mereka ikuti, tak peduli dengan penyelenggaraan yang
kecil-kecilan sekalipun. Dan seketika, mereka akan memiliki banyak relasi dan
menemukan ternyata ada banyak spesies sepertinya di berbagai daerah yang
dikunjungi, atau yah setidaknya nama mereka tercatat di buku tamu. Sungguh
golongan yang tangguh dan hebat! dengan uang saku yang cukup berlebih pula
pastinya.
Golongan
kedua ialah Para Pelaku. Biasanya beranggotakan para pelajar bahkan mahasiswa,
yang diutus mewakili sekolah maupun perguruan tingginya. Secara logistik, para
peserta yang berasal dari golongan ini biasanya telah tercukupi dari mulai
biaya pendaftaran, transport, bahkan pelatih. Namun yah, apapun harus ada
bayaran dari setiap kenikmatan yang didapatkan. Maka wajar, bila golongan ini tak
begitu melihat kondisi sekitar yang ada di tiap-tiap kompetisi. Yang penting
pulang bisa membawa oleh-oleh untuk kepala sekolah dan guru bahasa
Indonesianya.
Golongan
yang ketiga ini berbeda dengan dua golongan sebelumnya. Mereka justru memakai
keluguan sebagai sampul mukanya. Hm bagaimana ya menjelaskannya, hmm.. Hei! wait a minute! Peserta-peserta ini
terlihat hmm.. lucu! Wanita-wanitanya
bergaya seragam, pun dengan beberapa laki-lakinya. Dan yang paling menggelikan
ialah dialek dan ragam cakap yang digunakan. Ya, peserta-peserta yang mengaku datang
dari Pontianak, Riau, Madura, serta separuh lain dari total peserta yang ada. Daerah
yang berbeda, dengan dialek yang seragam. Dialek orang-orang Jekardah. Tampaknya
dandanan serta dialek tak bisa diajak kompromi dalam praktik macam begituan.
Ah,
ya ya ya itu tadi karakteristik peserta golongan ketiga. Mereka biasa disebut
sebagai golongan ‘yang berada di dalam lingkaran’. Dan sebenarnya masih ada
satu golongan lagi sih. Namun, Uh! Alih-alih ingin mengungkap kebenaran, nanti
justru dikira rasis dan lain sebagainya lagi. Hihihi..
Ya,
pernah ada seorang berkata bahwa untuk
mengetahui kebenaran diperlukan keraguan dan kecurigaan. Benar juga sih,
bila ragu dan tak mudah yakin pada apa yang tampak mata, maka yang timbul ialah
keinginan untuk mencari tahu kebenaran disebaliknya. Namun kebenaran selamanya akan selalu menyakitkan. Ah, ya ya ya.
Sayangnya ini yang membuat banyak orang tak jadi banting setir untuk memilih
bersikap ragu dan curiga.
Kembali
membincang kompetisi yang memiliki tujuan mulia itu tadi. Ya tentu saja,
bukankah mengenang jasa-jasa pahlawan itu sesuatu yang mulia –meski pahlawan
yang dikenang memiliki kontroversi dengan kebenaran sejarah sekalipun-. Satupersatu
finalis diumumkan sekaligus langsung membacakan puisi yang dipilihnya. Hingga
finalis keduapuluh maju, dan makin mengeraslah tawa para peserta golongan
keempat. Hahaha.. ya! Binggou! Mafia
Sastra Menyerang Semarang. Hahaha!
Yaa..
mungkin memang terkesan berlebihan. Karna yah, ihwal macam beginian telah lalulalu
mengada di kota ini, pastinya dengan segel yang berbeda, dengan merek yang tak
sama, dan tentunya dengan budget yang
tak seberapa. Hihihi… Ah, tiba-tiba saja ihwal ini mengingatkan kembali akan
kenangan perihal proyek pembukuan karya berbau tolak menolak dan tournya ke berbagai sekolah-sekolah,
serta yang masih mesra dalam ingatan, yakni perihal bilangan 33.
Namun
segalanya seperti tak ada apa-apa bagi golongan Para Pemburu dan Para Pelaku. Ah,
rupanya mereka benar-benar dilatih untuk sekadar lihai membaca puisi, sementara
nihil ketika membaca situasi. Bagi mereka, ini berarti belum rezeki. Duh!
Sementara
bagi keduapuluh finalis yang.. hey! Bukankah itu peserta asal Tegal dengan dialek
Jekardah? Dan.. Huwow, mereka berada di kelompok kursi melingkar yang sama!
Finalis pertama, finalis kedua, finalis ketiga, finalis keempat, finalis
kelima, finalis… dan Ah! Bukankah para peserta yang sedang berada di kelompok
kursi melingkar yang sama merupakan teman sepermainan sang juri. Emejing!
Finalis-finalis
yang Uh! Bajidut! Membaca dan cara untuk
membacanya benar-benar mengerikan. Hihihi.. Yah, bukan apa-apa sebenarnya. Saya
hanya prihatin dengan salah satu juri yang cukup banyak diakui integritasnya di
bidang sastra .Saya prihatin. Sungguh! Namun untuk dua lainnya, ah aroma itu
sudah tercium sejak mula. Begitu kasar. Sungguh. Begitu terpampang nyata. Terimakasih
telah membuat ini jadi lebih mudah. Hihihi..
Ya
ya ya Mafia Sastra di Semarang. Benar-benar berkah di bulan sejarah. Tentu
semarang patut bersyukur. Sebab menjadi yang terpilih dan dipercaya sebagai tuan
rumah. Tentu ini meningkatkan omzet penjualan tiket bus antarkota, tempat
penginapan, maupun pedagang angkringan di sekitar tempat kompetisi. Terang
saja, bila orang nomor satu di kota ini pun turut menyumbangkan dana untuk
pemenang juara favorit. Hihihi..
Maka,
berhati-hatilah! Ah, tidak. Maksud saya, bersukacitalah. Sebab mungkin saja
esok hari giliran daerahmu yang menjadi tuan rumah. Dan sangat mungkin pula,
bila komunitasmu terpilih menjadi panitia pelaksananya. Bersiap-siaplah!
Dan
ah, sampai lupa. Sebelum bersiap-siap, baiknya, untuk mengenang 10 November,
Marilah kita mengheningkan cipta sejenak!
Himas
Nur. dari golongan tak terdefinisi.
hemmm.... bagus.. bagus .. bagus himas. ketika membaca banyak pengetahuan yang dapat dipetik, dan tulisan-tulisan yang diungkapkan sebagai sindirin oarang-orang diluaran sana.
BalasHapustulisannya renyah banget, enak dinikmati :)
BalasHapussemangat berkarya
makasiih :D semangart juga buat temen-temen buat berkarya terus :)
BalasHapusblog yang bagus, berisi, bacaan yang delicious. semangat buat pengelolanya ....
BalasHapus#isthebest:)
hehe trimakasih, mohon selalu kritik dan sarannya ya :D
BalasHapus