Membincang
etika, seni, dan budaya dalam balutan konservasi bisa dibilang merupakan suatu
ihwal klise nan konyol namun diwajibkan ( sengaja saya tidak menggunakan kata
‘diperlukan’ ) meng-ada, terlebih di era digital ini. Tak perlu pula berlapis
makalah, disertasi, dan tetek bengek
lainnya untuk menjelaskan bahwa konservasi tak sekadar dimaknai menyulap ruang
publik menjadi berkostum serba hijau. Dewasa ini, kata ‘konservasi’ merakyat
pada pelbagai lini kehidupan, pun etika, seni, dan budaya. Ya, sengaja pula
saya menambahkan kata ‘kata’ di depan kata ‘konservasi’, pun dengan kalimat ini
yang sengaja tak saya bubuhi tanda kurung buka-tutup dan atau kawan-kawanya. Masih
ada yang mempertanyakan mengapa (?).
***
Konservasi : Menggagas Realitas
Konservasi
sebagai sebuah ide dikemukakan oleh Theodore Roosevelt pada awal abad 19.
Berasal dari kata con ( together ) dan servare ( keep / save )
yang berarti upaya memelihara apa yang dimiliki ( keep / save what you have ) namun dengan sikap dan cara yang
bijaksana ( wise use ). Konsep konservasi
sebenarnya telah lama lahir. Di Asia bagian timur, oleh Raja Asoka ( 252 SM ) Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati ( KSDH ) mulai disosialisasikan dimana pada saat itu
diperlukan adanya perlindungan terhadap hutan, ikan, dan binatang liar.
Konservasi
selanjutnya mendapat predikat global sebagai satu dari sekian pengisi ruang
tema besar dunia. Konservasi tak lagi sekadar wacana yang digumamkan namun
telah menjadi highlight dan headline. Munculnya suatu ketakutan
global terhadap banyak hal yang dirasa berpengaruh terhadap kelangsungan hidup
manusia secara global menjadi pemantik lahirnya itu semua.
Pada
zaman yang tak terlalu jauh dari kini, manusia tahu bahwa konservasi menjadi
garda paling depan dalam keberlangsungan hidup, manusia sadar akan urgennya
–kalau boleh dikatakan demikian- konservasi karena memahami bila konservasi tak
segera menjadi napas dalam berkehidupan maka segala apa yang ada di sekeliling
akan meniada. Hutan, hewan, budaya, alam. Pada zaman kini manusia tetap tahu
bahkan sepenuhnya sadar bahwa konservasi itu perlu dan harus ada, namun tak
banyak yag memahami untuk apa dan mengapa.
Konservasi
pada perkembangan yang lebih lanjut menjadi suatu kekinian yang tak terelakkan.
Konservasi menjelma antrean panjang antara, tren dan gaya hidup. Konservasi
menjadi begitu sesak dan pengap. Berjubel merambah brand, media, dan bahkan perguruan tinggi. Konservasi seketika
bertransformasi menjadi sesuatu yang dilembagakan dengan berbagai balutan dan kepentingan,
tentu saja.
***
Budaya dan Sebuah Peran Besar
Indonesia
sebagai negara dengan dua per tiga kekayaan dunia menurut buku pelajaran yang
diterima oleh generasi bangsa program belajar 12 tahun, memiliki tak berhingga
bentuk dan macam budaya. Pada perkembangan yang lebih kini, istilah budaya menjadi
makin luas. Budaya tak lagi dimaknai sebatas
lagu dan tarian daerah, atau alat musik dan pakaian adat. Budaya menjelma sesuatu
yang dapat disematkan di banyak aktivitas berkehidupan. Budaya malu, budaya
antre, budaya peduli menjadi sering dijumpai dewasa ini. Namun salah kaprah
pemakaian ‘budaya’ menjadikan adanya dikotomi sifat antara yang baik dan yang
buruk. Padahal seyogianya budaya merupakan suatu cara hidup suatu kelompok
manusia yang diyakini dan bersifat baik. Tentu jargon seperti budaya menyontek
dan budaya korupsi termasuk penyumbang terbesar salah kaprah pemakaian
‘budaya’.
Budaya
menunjuk seluruh tatanan kehidupan. Budaya menjadi satu kesatuan maha besar
yang dilapisi oleh pelbagai sistem yang mencakup didalamnya seni, bahasa, kepercayaan,
teknologi, pranata sosial, dan tak berhingga lainnya. Masih lekat di telinga
kita perihal kesenian Indonesia yang tiba-tiba berselancar dan menetap menjadi
warga negara lain, atau kerusuhan dan pelanggaran kemanusiaan yang mengatasnama
lembaga dan agama. Adanya bermacam lapisan masyarakat dan pembatasan ruang yang
melingkupi sehingga menghasilkan kesenjangan sosial juga masih menjadi santapan
masyarakat Indonesia, hingga kini.
Tentu
hal yang disebutkan di atas menjadi topik yang tak cepat habis dibahas. Ya,
sebab selalu ada yang menjadikannya ada. Sebab kasus-kasus tersebut masih tetap
setia mengada di sekeliling masyarakat Indonesia. Sebab permasalahan tersebut
menjelma menjadi suatu pelumrahan yang menyedihkan. Sebab terlalu banyak
permasalahan yang ditampung sementara sedikit solusi yang dicari, dan bahkan
dijalankan.
Gegar
budaya, penetrasi budaya, degradasi budaya, dan kawan-kawannya yang berbau
kemunduran, penurunan, kemerosotan, merupakan narasi besar yang rasa-rasanya
tak akan lekang dimakan zaman. ‘Budaya’ –yang disandingkan dengan ‘Indonesia’-
menjadi sesuatu yang kompleks dan plural. Suatu cikal bakal bagi suburnya
perkembangbiakan, baik kedamaian dan atau kehancuran. Tak perlu banyak contoh
untuk sekadar membuktikan bahwa budaya Indonesia menjelma sesuatu yang besar, bahkan
melebihi komponen-komponen di dalamnya. Maka tak heran bila konservasi menjadi
semacam pelindung tulang punggung Indonesia. Ya, tulang punggung. Sebab masih
ada(kah) yang bisa dibanggakan selain budaya.
***
Generasi Milenial dan Peradaban
Umat Manusia
Budaya
menjadi yang paling intim relasinya dengan sebuah peradaban, dimana manusia
berkedudukan sebagai korban sekaligus pelaku. Konservasi dalam suatu
perkembangan, memandang pelestarian tak sebatas pada slogan satu siswa satu mangrove –di banyak
tempat pun, konservasi mandek pada tataran siswa sebaga subjek- tetapi
konservasi sebagai sebuah upaya pelestarian warisan kebudayaan ( culture heritage ) dan peradaban umat
manusia.
Menjadi
menarik ketika perbincangan dihadapkan pada ‘peradaban umat manusia’. Abad 21
menjadi era yang menandai globalisasi mencapai puncaknya yang paling tinggi,
maha segala maha. Generasi pun beralih rupa menjelma sosok akusentris. Bermodal
pelbagai perangkat beraneka rupa dengan dimanjakan layanan media sosial, generasi
yang dinamai oleh sosialis Joel Stein sebagai generasi milenial, menduduki chart teratas dalam tangga kehidupan
narsistis dan materialistis.
Joel
Stein dalam artikelnya “The Me Me Me
Generation – Why They’ll Save Us All”, menerangkan bahwa generasi milenial
( generasi yang lahir setelah tahin 1990 ) merupakan generasi yang memosisikan
dirinya sebagai seorang yang harus dikenali oleh semua orang, gemar mengeluh,
malas untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya baik, serta sangat berat untuk
tidak mengikuti tren dan memiliki barang keluaran terbaru dengan merek ternama.
Generasi
pemegang self-portrait monopod atau
yang biasa dikenal dengan istilah tongsis ( tongkat narsis ) cenderung memiliki
kecintaan yang berlebih terhadap diri sendiri, namun abai terhadap informasi
yang tak bersangkut dengan kehidupannya. Keseharian generasi ini dihabiskan
dengan menonton variety show di
televisi dan meng-update aktivitas
sehari-hari melalui medsos ( media sosial ).
Generasi
Me Me Me dipersenjatai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang makin
melegitimasi diri untuk mengatakan ‘saya
ingin sukses dan dapat memiliki semua hal yang saya inginkan. Tapi saya tak
tahu bagaimana saya mendapatkannya. Saya tak tahu mengapa saya
menginginkannya’.
Tentu
tak semua yang disebutkan adalah karakter mutlak manusia kekinian, terlebih yang
lahir setelah tahun 1990. Ya, sekali lagi saya bilang ‘tak semua yang
disebutkan’. Celakanya, Indonesia sebagai satu dari banyak negara yang memiliki
akses informasi dan komunikasi yang serba cepat, memiliki pengaruh yang bisa
dikatakan sangat kuat terhadap para penggunanya, masyarakat Indonesia.
Pada
tataran yang lebih luas lagi, -mungkin dirasa klise- namun hal ini tentu
berpengaruh pula terhadap pola pikir, gaya hidup, perilaku, hingga
sistem-sistem lain dalam ruang lingkup kehidupan manusia, bahkan terhadap suatu
yang lebih sakral, karakter kebangsaan.
Yah,
namun tak bijak pula bila menggunakan kata ‘celaka’ sebagai penanda bahwa hal
yang tersebutkan diatas kesemuanya mengarah pada sumbu negatif, setidaknya generasi
ini menjadi penanda baru dalam sejarah peradaban umat manusia.
***
Karakter Bangsa, Kembalilah!
Masih
perihal generasi milenial dan era baru yang menandai peradaban umat manusia,
kini kembali kita dihadapkan pada persoalan klasik mengenai etika, moral,
nilai, dan ihwal lain yang berhubungan dengan perilaku baik dan buruk. Ketika
zaman mulai bertransformasi, menamai diri dengan bermacam rupa dan karakter,
maka manusia, sebagai pemegang kendali dan yang dikenai sasaran, sebagai subjek
dan objek sekaligus, saling menentukan predikat dan keterangan-keterangan lain
yang dapat menunjang terbentuknya suatu kalimat. Sebuah narasi besar.
Ketika
modernitas mengamini adanya suatu pengkultusan terhadap keinginan dan keharusan,
serta penghambaan pada suatu yang dikultuskan menjadi suatu ritus aneka hingga
dan dilakukan oleh generasi –yang oleh
banyak orang disebut sebagai- penerus bangsa, maka karakter kebangsaan
mendapati dirinya di ruang yang paling marginal. Terpinggirkan oleh bermacam ‘ramuan’
yang dapat dengan segera menimbulkan kebahagiaan dan sekaligus keresahan,
tersubordinasi oleh bermacam karakter-karakter palsu yang menjanjikan
ketercapaian serba instan, dan serba palsu. Bahkan dalam perkembangan yang diperkirakan
tak lama lagi setelah ini, karakter kebangsaan akan menjadi asing di rumah
sendiri.
Etika
sebagai nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seorang atau suatu
kelompok dalam mengatur tingkah lakunya, menurut K. Bertens, menjadi suatu yang
diharapkan dalam menjembatani, antara generasi –dengan berbagai nama- dan
karakter kebangsaan. Namun tak lantas dikatakan bahwa setiap hal yang mengenai
perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Sebagai suatu ilmu, etika memerlukan
sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Etika memandang
perbuatan manusia dari sudut baik dan buruk.
Namun
pemahaman tak kemudian mandek pada penafsiran antara benar, salah, baik, buruk saja.
Tetapi bagaimana memulai melakukan suatu perbuatan dan memertangungjawabkan
perbuatan tersebut, tentunya masih dalam ranah ‘mengembalikan’ karakter
kebangsaan. Ya, memang terdengar seperti lagu lama, tetapi memang ini yang
diperlukan saat ini. Patriotisme tak lantas dipahami sebagai sekadar gerakan
mengangkat senjata dan menembakkan bedil ke jantung penguasa. Peluru sangat
bisa beralih rupa menjelma tarian, not-not balok, atau kata-kata yang menyelip
melalui status dan kicauan di media sosial. Sehingga ( diharapkan ) tak akan
lagi ada generasi sekarang yang melulu ribut urusan mata dan perut.
Cinta
tanah air tak pula sekadar ditunjukkan dengan sikap patriotisme saja. Bukankah
sopan, ramah, gotong royong, peduli, dan guyub adalah karakter yang dikenali
bangsa lain sebagai karakter bangsa Indonesia ?
***
Konservasi Etika, Seni, dan Budaya
: Sebuah Permenungan
Di
awal sudah saya jelaskan bahwa tak lagi perlu berlapis makalah, disertasi, dan tetek bengek lainnya. Ya, sebab kita
sebenarnya telah hapal diluar kepala. Sebab kita terlalu dijejali dan menjejali
diri sendiri dengan bertumpuk teori perihal yang baik dan yang buruk, peihal
ini dan anu. Sebab kita telah dididik untuk doyan
pelbagai macam teori. Sebab kita begitu cepat kenyang hanya dengan teori, tanpa
aplikasi. Maka tak heran bila generasi kekinian menjelma generasi siap saji,
generasi instan yang ingin hasil tanpa melalui proses. Generasi yang begitu
gebu memperjuangkan hak pribadi, tetapi abai pada kewajiban diri. Generasi
menunduk yang lebih gemar memainkan jemari pada pematang Qwerty daripada berjabat tangan dan saling memandang.
Merupakan
tantangan besar bagi dunia, khususnya Indonesia. Ketika kehidupan makin
mengakar pada kekuasaan kemajuan peradaban, maka yang perlu dipupuk bukan lagi
sekadar mengenai cara untuk masuk ke dalam lingkaran dan berputar mengikuti
arusnya, tetapi bagaimana bisa mengambil intisari yang ada dalam lingkaran
tersebut untuk kemudian membangun bentuk baru. Out of the ‘circle’. Tak lagi menjadi konsumer, melainkan trendsetter.
Kemajuan
peradaban seyogianya dijadikan sebagai tumpuan dalam proses menuju menjadi.
Permasalahan bukan lagi mengenai diperlukan dan diwajibkan, tetapi
dilaksanakan. Bukan saatnya lagi untuk mencanangkan perubahan, tetapi inilah
waktunya untuk melakukan perubahan. Pelestarian merupakan satu dari sekian
upaya untuk mewujudkannya. Namun
pelestarian bukanlah sesuatu yang dianggap sebagai pencegahan yang terlambat.
Sebab konservasi telah memiliki peran yang jauh lebih besar dari sekadar upaya
pelestarian, dan manusia sebagai penentu kebijakan ialah sebesar-besarnya komponen
yang ada di dunia. Ia berperan sebagai yang menjadikan ada dan tiada.
Etika,
seni, dan budaya ketika bersandang gelar ‘konservasi’ di depan ketiganya tentu
menjadi ihwal yang tak mudah untuk dilaksanakan. Sebagaimana kita tahu bahwa
pertama yang perlu dilakukan ialah mengembalikan apa yang seharusnya memang
milik kita. Ya, layaknya kehidupan yang kemudian bermuara ke Muasal Segala.
Agaknya sebelum memulai ini, perlu sebuah permenungan pada hal yang paling
dasar, suatu yang esensial.
Perencanaan
memang menjadi yang diperlukan dalam menjalankan sesuatu, terlebih dengan
embel-embel jangka pendek dan jangka panjang. Namun, tak lantas menjadikan kita
tahu untuk apa dan mengapa kita menjalankan hal tersebut. Maka disinilah peran
konservasi yang sesungguhnya, sebagai upaya mengembalikan ke bentuk muasal.
Kepada sebuah hakikat.
Peduli.
Menjadi modal pertama dan utama. Ia berperan sebagai penggugah kesadaran
manusia. Konservasi -dan sebenarnya hal lain diluar itu- tak akan berjalan
sempurna ketika sesuatu bernama kepedulian tak mengakar pada dinding-dinding
nurani. Peduli menjadi sesuatu yang kompleks ketika dihadapkan pada tema besar
perihal etika, seni, dan budaya, namun merupakan kesatuan yang utuh. Dengan
peduli tak lagi ada dengungan perihal kesenian yang diklaim oleh bangsa lain.
Tak lagi ada warta mengenai kerusuhan dan pelanggaran kemanusiaan. Tak lagi ada
si miskin dan si kaya. Tak lagi ada akusentris maupun ke-aku-an. Sebab peduli
telah melibas ‘aku’ menjelma sebentuk ‘kita’.
Rasa
memiliki. Ketika peduli telah mengakar di sanubari paling palung, maka rasa
memiliki akan mengalir di tiap sendi-sendi tubuh. Rasa memiliki menjadi napas
bagi langkah menuju suatu pelaksanaan. Tak lagi ada alasan untuk tak melakukan
sesuatu ketika rasa memiliki telah begitu lekat dan pekat mengalir bebarengan
dengan darah di sekujur tubuh.
Tanggung
jawab. Ia lahir ketika peduli dan rasa memiliki dibuahi oleh nurani. Tanggung
jawab untuk melakukan sesuatu dan mempertanggungjawabkan atas sesuatu yang
telah dilakukan tersebut. Maka konservasi menjadi suatu wujud konkret dari
bentuk peduli, rasa memiliki, dan tanggung jawab.
Kini
tinggal bagaimana kita, meletakkan konservasi sebagai sebuah kata, sebuah
petuah, sebuah ritus, sebuah lembaga atau sebuah entah yang kita maknai sebagai
sesuatu.
*****
esai ini menjadi Juara I dalam Lomba Penulisan Esai Pelangi
oleh Badan Pengembang Konservasi Unnes
cieee yang menang, ehem traktiran
BalasHapustraktirannya aku kasi lumba-lumba biru di kiri bawah itu buat kamuu
BalasHapus