Selasa, 09 Desember 2014

GENERASI KEKINIAN: ANTARA MEDIA, RUANG PENDIDIKAN, DAN KARAKTER KEBANGSAAN




Guru, murid, pelajaran, ruang kelas, sekolah. Ya, kelima kosakata itu yang segera berkelindan dalam benak, ketika mendengar istilah ‘pendidikan’. Penuh aktivitas belajar-mengajar, penuh pelajaran membosankan dan atau bahkan mengerikan, ruang kelas yang terasa sumpek dan pengap, -entah karena kegiatan pembelajaran yang membuat demikian, atau dalam artian yang sebenarnya-, penuh peserta didik yang menjelma generasi prematur dengan ritus yang ‘diseragamkan’: bangun tidur – sekolah - mengerjakan tugas – tidur - bangun lagi - dan begitu seterusnya. Namun benar(kah) bahwa ruang paradigma perihal ‘pendidikan’ mandek hanya sebatas pada ruang kelas yang pengap, mata pelajaran yang lindap, dan murid-murid yang gagap(?)       

***

Pendidikan diartikan sebagai suatu proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan tata laku atau kebiasaan yang ditransfer dari satu atau lebih orang kepada satu atau lebih orang yang lain. Namun tak selamanya pula bahwa pendidikan terjadi dibawah ‘bimbingan’ dari satu atau orang lain tersebut, pada cerminan di lapangan, tak sedikit yang memperoleh pendidikan secara autodidak. Maka dapat dipahami bahwa pendidikan tak melulu soal sekolah dengan peserta didik dan guru yang berseragam sekaligus diseragamkan. 

Membincang pendidikan merupakan ihwal yang lumrah, olehsebab tak jarang pula kita menjumpai kata tersebut, bahkan seringkali melekat di pelbagai lini kehidupan. Pendidikan profesi, pendidikan ekonomi, pendidikan konservasi, hingga pendidikan seni. Segalanya dapat dengan mudah bergelar ‘pendidikan’ dengan embel-embel mencetak generasi yang mampu memenuhi kebutuhan zaman.  

Manusia, sebagai suatu pribadi, sebenarnya memiliki hak kebebasan untuk melakukan apa saja (free will), termasuk berkebebasan dalam menangkap segala hal yang ada di sekeliling untuk kemudian dicerna, dilumat, ditelan, atau justru dimuntahkan. Media menjadi satu dari banyak perantara atau bahkan hubungan langsung tiap-tiap individu dalam menyelami ruang ‘pendidikan’nya. Tak perlu bertumpuk teori sekadar untuk menjelaskan bahwa di abad 21 ini teknologi semakin maju, perkembangan budaya makin multi, segalanya menjadi lebih mudah, segalanya menjadi lebih instan. Maka tak heran bahwa generasi yang hidup di era ini begitu dimanjakan dengan segala fasilitas yang memudahkan. Mudah lena, mudah alpa.

Media begitu fasih mendulang segala kenikmatan mata dan perut. Tayangan televisi yang penuh sesak dengan siaran variety show, warta berita yang kini mengabur antara entah, memihak dan atau mengoposisi, media sosial yang menjadikan penggunanya makin anti sosial. Media menduduki puncak klasemen kehidupan. Tak dapat dipungkiri, bahwa media telah menjelma wajah pendidikan Indonesia. Wajah sistem pendidikan Indonesia.        

Generasi yang hidup di kekinian, para generasi yang digadang-gadang sebagai penerus bangsa, disuguhi bermacam tontonan perihal kisah picisan dalam sinema elektronik dimana sang tokoh dengan segala aksesoris di tubuh dan gadgetnya menamai diri sebagai ‘anak gaul’. Pencitraan pendidik yang seenaknya, percakapan yang jauh dari tata krama antara sang tokoh dengan orang tua, sang tokoh yang begitu labil dan masa bodoh pada segala yang tak berkepentingan secara langsung dalam hidupnya, mewarnai tayangan yang digandrungi generasi kini.

Di satu sisi, memang benar bahwa ini hanyalah sebuah tayangan hiburan. Namun di banyak sisi yang lain, tentu ini meresahkan, memandang tontonan ini dikonsumsi oleh para generasi muda Indonesia. Karakter bangsa diwarnai oleh sifat pemimpi, pengekor, instan, konsumtif, dan apatis yang tercermin dalam banyak tayangan televisi Indonesia. Tentu ini akan menjadi lebih kompleks kajiannya bila disinggung mengenai ‘mengapa diciptakan tokoh dengan karakter seperti itu’ atau ‘siapa yang mendesainnya’. Ya, tentu ada sesuatu yang lebih besar dibalik ini semua. Bahwa segala yang mengada ialah by design.

Siapa yang memiliki kuasa memiliki pula tombol kontrol peng-Ada maupun peni-Ada. Menjadi rahasia umum bila kini, institusi yang menamai diri sebagai pembawa informasi, meletakkan wartanya kepada siapa yang menekan tombol kontrol tersebut.

Namun menjadi tidak bijak ketika globalisasi dan tetekbengeknya menjelma kambing hitam dalam tiap-tiap sumbu negatif yang mulai mengakar di masing individu bahkan sistem yang mengada. Maka yang dibutuhkan tak lagi sekadar memenuhi kebutuhan zaman, namun juga bersikap kritis terhadap zaman. Sudahkah?

***

Berdasar pada tabel liga global yang diterbitkan oleh lembaga edukasi dan perusahaan penerbitan Pearson, sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia. Tentu ini memprihatinkan, atau justru telah diduga sebelumnya. Lagipula toh ini hanyalah sebuah survei, tentu tak dapat dipastikan kebenaran dan ketepatannya, terlebih ini hanya survei dari satu versi saja, sangat mungkin kan bila di versi yang lain Indonesia menempati posisi teratas. Benarkah pemikiran konyol tersebut setidaknya sedikit melintas di kepala, sekadar untuk menenangkan diri bahwa everything’s gonna be okay.

Pendidikan seyogianya menjadikan manusia menjadi manusia, manusia yang memanusiakan manusia, bukan dehumanisasi yang tereduksi justru oleh sistem pendidikan itu sendiri. Ini yang seringkali menjadikan ketimpangan, ketika pendidikan di banyak hal dan banyak tempat, begitu terpaku pada kemampuan kognisi sementara segi yang lain tak begitu dihiraukan, atau bahkan terlupakan. Maka terang saja, bila suatu bangun atau bidang tak pernah lengkap dan selalu njomplang, karena antarsisi tak memiliki keseimbangan.  

Berdasarkan penelitian di Universitas Harvard Amerika Serikat, kesuksesan seorang individu tak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis maupun kognisinya saja, namun lebih pada kemampuan mengelola diri sendiri dan orang lain. Penelitian ini menyebutkan bahwa 20 persen kesuksesan ditentukan oleh faktor hard skill dan sisanya ialah soft skill. Dan kemampuan soft skill dapat diasah melalui pendidikan karakter.

Pendidikan karakter tak semata-mata merupakan suatu pengajaran berperilaku hormat dan kaku terhadap orang dengan jarak usia diatas, atau bahkan suatu pelatihan kedisiplinan seperti pada lembaga kedinasan. Pada cakupan yang lebih dalam dan urgen, pendidikan karakter bertujuan untuk menumbuhkan kembali karakter kebangsaan para generasi Indonesia. Ya, ada yang digarisbawahi dalam kata-kata tersebut, urgen dan menumbuhkan kembali.

Cinta tanah air, mungkin terdengar klise dan begitu naif. Namun memang inilah yang diperlukan Indonesia saat ini. Bila apatis dan konsumtif dikembangbiakkan dalam berkehidupan, maka karakter bangsa menjadi makin tergerus, tentu oleh kita sendiri. Dalam ruang kontemplasi yang lebih jauh lagi, maka sudah sepenuhnya kita menyadari dan memahami bahwa ini bukan sekadar mengenai cinta tanah air yang diterakan lewat pendidikan karakter saja. Budaya yang makin memudar, segala bentuk aktivitas berkehidupan yang mulai berkiblat dan bahkan bernapas pada bangsa lain tentu (seharusnya) cukup menjadi pemantik.

Pendidikan karakter dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, oleh dan atau kepada siapa saja. Tak bergantung hanya oleh institusi dan lembaga. Sebab manusia ialah pelaku sekaligus korban, subjek sekaligus objek belajar. Ciri dasar pendidikan karakter yang dicetuskan oleh seorang Jerman, bernama FW Foerster, menerangkan bahwa pendidikan karakter menekankan pada tindakan yang berpedoman pada nilai normatif, terdapat pembangunan kepercayaan diri dan keberanian, adanya suatu otonomi, serta adanya bentuk keteguhan dan kesetiaan.

Bila hal tersebut yang mengalir dalam tiap sendi berkehidupan, maka generasi penerus bangsa menjelma pribadi yang teguh pendirian dan mengerti akan setiap risiko dari perbuatan yang telah dilakukan. Berkelakuan sesuai norma yang ada, mampu mengambil keputusan sendiri tanpa pengaruh dari pihak luar, serta memiliki daya tahan dalam mewujudkan sesuatu dan memiliki komitmen atas apa yang telah dipilih.

Pendidikan karakter merupakan dasar dalam pembentukan karakter kebangsaan yang berkualitas. Bila hal ini dimaknai dengan baik, maka akan jarang ditemui seorang kaya yang begitu pelit terhadap sesama, pejabat tinggi yang menyalahgunakan kedudukannya sebagai wakil rakyat, atau guru yang tak peduli terhadap nasib anak-anak yang tak dapat mengenyam bangku sekolah, dan hanya peduli pada sertifikasi maupun kenaikan pangkat. Sekolah tak lagi sebatas bisnis yang dilembagakan untuk mencetak selembar ijazah. Generasi digital tak lagi mengeluarkan berlusin lembar ratusan ribu sekadar untuk membeli tongsis (tongkat narsis), gadget, dan barang-barang lainnya yang sebenarnya tidak menjadi kebutuhan utama.

Karakter kebangsaan melandasi fondasi pendidikan Indonesia yang baik dan terarah, termasuk melalui perilaku terhadap pendidikan itu sendiri. Memberikan status tinggi pada, baik guru maupun murid serta memiliki budaya pendidikan menjadi salah satu contohnya. Budaya bahwa baik guru maupun murid sama-sama dihormati, dan seluruh komponen, baik guru, murid, orang tua, dan bahkan media, bertanggung jawab atas suatu kata bernama pendidikan.

Bila telah demikian, maka tak lagi ada salah kaprah pendidikan yang sebatas dikotomi antara guru dan murid, pelajaran dan ruang kelas. Bila telah demikian, maka tak lagi ditemui karakter kebangsaan yang termarginalisasi dalam ruang kontemplasi. Bila telah demikian, Indonesia tak lagi menyandang ‘berkembang’ dalam segala aspek, namun tentunya melampaui itu. Bila telah demikian, maka Indonesia akan seutuhnya baru dalam pelbagai, proses berpikir, proses mendewasa, proses menjadi.   

*****

esai ini menjadi Juara I dalam Lomba Penulisan Esai oleh BSC Unnes tingkat Jawa Tengah & DIY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar