Guru,
murid, pelajaran, ruang kelas, sekolah. Ya, kelima kosakata itu yang segera
berkelindan dalam benak, ketika mendengar istilah ‘pendidikan’. Penuh aktivitas
belajar-mengajar, penuh pelajaran membosankan dan atau bahkan mengerikan, ruang
kelas yang terasa sumpek dan pengap, -entah karena kegiatan pembelajaran yang
membuat demikian, atau dalam artian yang sebenarnya-, penuh peserta didik yang menjelma
generasi prematur dengan ritus yang ‘diseragamkan’: bangun tidur – sekolah - mengerjakan
tugas – tidur - bangun lagi - dan begitu seterusnya. Namun benar(kah) bahwa ruang
paradigma perihal ‘pendidikan’ mandek hanya sebatas pada ruang kelas yang
pengap, mata pelajaran yang lindap, dan murid-murid yang gagap(?)
***
Pendidikan
diartikan sebagai suatu proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan tata
laku atau kebiasaan yang ditransfer dari satu atau lebih orang kepada satu atau
lebih orang yang lain. Namun tak selamanya pula bahwa pendidikan terjadi
dibawah ‘bimbingan’ dari satu atau orang lain tersebut, pada cerminan di
lapangan, tak sedikit yang memperoleh pendidikan secara autodidak. Maka dapat
dipahami bahwa pendidikan tak melulu soal sekolah dengan peserta didik dan guru
yang berseragam sekaligus diseragamkan.
Membincang
pendidikan merupakan ihwal yang lumrah, olehsebab tak jarang pula kita menjumpai
kata tersebut, bahkan seringkali melekat di pelbagai lini kehidupan. Pendidikan
profesi, pendidikan ekonomi, pendidikan konservasi, hingga pendidikan seni. Segalanya
dapat dengan mudah bergelar ‘pendidikan’ dengan embel-embel mencetak generasi yang mampu memenuhi kebutuhan zaman.
Manusia,
sebagai suatu pribadi, sebenarnya memiliki hak kebebasan untuk melakukan apa
saja (free will), termasuk
berkebebasan dalam menangkap segala hal yang ada di sekeliling untuk kemudian
dicerna, dilumat, ditelan, atau justru dimuntahkan. Media menjadi satu dari
banyak perantara atau bahkan hubungan langsung tiap-tiap individu dalam menyelami
ruang ‘pendidikan’nya. Tak perlu bertumpuk teori sekadar untuk menjelaskan
bahwa di abad 21 ini teknologi semakin maju, perkembangan budaya makin multi, segalanya
menjadi lebih mudah, segalanya menjadi lebih instan. Maka tak heran bahwa
generasi yang hidup di era ini begitu dimanjakan dengan segala fasilitas yang
memudahkan. Mudah lena, mudah alpa.
Media
begitu fasih mendulang segala
kenikmatan mata dan perut. Tayangan televisi yang penuh sesak dengan siaran variety show, warta berita yang kini
mengabur antara entah, memihak dan atau mengoposisi, media sosial yang menjadikan
penggunanya makin anti sosial. Media menduduki puncak klasemen kehidupan. Tak dapat
dipungkiri, bahwa media telah menjelma wajah pendidikan Indonesia. Wajah sistem
pendidikan Indonesia.
Generasi
yang hidup di kekinian, para generasi yang digadang-gadang sebagai penerus
bangsa, disuguhi bermacam tontonan perihal kisah picisan dalam sinema
elektronik dimana sang tokoh dengan segala aksesoris di tubuh dan gadgetnya menamai diri sebagai ‘anak
gaul’. Pencitraan pendidik yang seenaknya, percakapan yang jauh dari tata krama
antara sang tokoh dengan orang tua, sang tokoh yang begitu labil dan masa bodoh
pada segala yang tak berkepentingan secara langsung dalam hidupnya, mewarnai
tayangan yang digandrungi generasi kini.
Di
satu sisi, memang benar bahwa ini hanyalah sebuah tayangan hiburan. Namun di
banyak sisi yang lain, tentu ini meresahkan, memandang tontonan ini dikonsumsi
oleh para generasi muda Indonesia. Karakter bangsa diwarnai oleh sifat pemimpi,
pengekor, instan, konsumtif, dan apatis yang tercermin dalam banyak tayangan
televisi Indonesia. Tentu ini akan menjadi lebih kompleks kajiannya bila
disinggung mengenai ‘mengapa diciptakan tokoh dengan karakter seperti itu’ atau
‘siapa yang mendesainnya’. Ya, tentu ada sesuatu yang lebih besar dibalik ini
semua. Bahwa segala yang mengada ialah by
design.
Siapa
yang memiliki kuasa memiliki pula tombol kontrol peng-Ada maupun peni-Ada. Menjadi
rahasia umum bila kini, institusi yang menamai diri sebagai pembawa informasi,
meletakkan wartanya kepada siapa yang menekan tombol kontrol tersebut.
Namun
menjadi tidak bijak ketika globalisasi dan tetekbengeknya
menjelma kambing hitam dalam tiap-tiap sumbu negatif yang mulai mengakar di
masing individu bahkan sistem yang mengada. Maka yang dibutuhkan tak lagi
sekadar memenuhi kebutuhan zaman, namun juga bersikap kritis terhadap zaman.
Sudahkah?
***
Berdasar
pada tabel liga global yang diterbitkan oleh lembaga edukasi dan perusahaan
penerbitan Pearson, sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di
dunia. Tentu ini memprihatinkan, atau justru telah diduga sebelumnya. Lagipula toh
ini hanyalah sebuah survei, tentu tak dapat dipastikan kebenaran dan ketepatannya,
terlebih ini hanya survei dari satu versi saja, sangat mungkin kan bila di
versi yang lain Indonesia menempati posisi teratas. Benarkah pemikiran konyol
tersebut setidaknya sedikit melintas di kepala, sekadar untuk menenangkan diri
bahwa everything’s gonna be okay.
Pendidikan
seyogianya menjadikan manusia menjadi manusia, manusia yang memanusiakan
manusia, bukan dehumanisasi yang tereduksi justru oleh sistem pendidikan itu
sendiri. Ini yang seringkali menjadikan ketimpangan, ketika pendidikan di banyak
hal dan banyak tempat, begitu terpaku pada kemampuan kognisi sementara segi
yang lain tak begitu dihiraukan, atau bahkan terlupakan. Maka terang saja, bila
suatu bangun atau bidang tak pernah lengkap dan selalu njomplang, karena antarsisi tak memiliki keseimbangan.
Berdasarkan
penelitian di Universitas Harvard Amerika Serikat, kesuksesan seorang individu
tak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis maupun kognisinya saja, namun lebih
pada kemampuan mengelola diri sendiri dan orang lain. Penelitian ini
menyebutkan bahwa 20 persen kesuksesan ditentukan oleh faktor hard skill dan sisanya ialah soft skill. Dan kemampuan soft skill dapat diasah melalui
pendidikan karakter.
Pendidikan
karakter tak semata-mata merupakan suatu pengajaran berperilaku hormat dan kaku
terhadap orang dengan jarak usia diatas, atau bahkan suatu pelatihan
kedisiplinan seperti pada lembaga kedinasan. Pada cakupan yang lebih dalam dan
urgen, pendidikan karakter bertujuan untuk menumbuhkan kembali karakter
kebangsaan para generasi Indonesia. Ya, ada yang digarisbawahi dalam kata-kata
tersebut, urgen dan menumbuhkan kembali.
Cinta
tanah air, mungkin terdengar klise dan begitu naif. Namun memang inilah yang
diperlukan Indonesia saat ini. Bila apatis dan konsumtif dikembangbiakkan dalam
berkehidupan, maka karakter bangsa menjadi makin tergerus, tentu oleh kita
sendiri. Dalam ruang kontemplasi yang lebih jauh lagi, maka sudah sepenuhnya
kita menyadari dan memahami bahwa ini bukan sekadar mengenai cinta tanah air
yang diterakan lewat pendidikan karakter saja. Budaya yang makin memudar, segala
bentuk aktivitas berkehidupan yang mulai berkiblat dan bahkan bernapas pada
bangsa lain tentu (seharusnya) cukup menjadi pemantik.
Pendidikan
karakter dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, oleh dan atau kepada siapa
saja. Tak bergantung hanya oleh institusi dan lembaga. Sebab manusia ialah pelaku
sekaligus korban, subjek sekaligus objek belajar. Ciri dasar pendidikan
karakter yang dicetuskan oleh seorang Jerman, bernama FW Foerster, menerangkan
bahwa pendidikan karakter menekankan pada tindakan yang berpedoman pada nilai
normatif, terdapat pembangunan kepercayaan diri dan keberanian, adanya suatu
otonomi, serta adanya bentuk keteguhan dan kesetiaan.
Bila
hal tersebut yang mengalir dalam tiap sendi berkehidupan, maka generasi penerus
bangsa menjelma pribadi yang teguh pendirian dan mengerti akan setiap risiko
dari perbuatan yang telah dilakukan. Berkelakuan sesuai norma yang ada, mampu
mengambil keputusan sendiri tanpa pengaruh dari pihak luar, serta memiliki daya
tahan dalam mewujudkan sesuatu dan memiliki komitmen atas apa yang telah
dipilih.
Pendidikan
karakter merupakan dasar dalam pembentukan karakter kebangsaan yang
berkualitas. Bila hal ini dimaknai dengan baik, maka akan jarang ditemui
seorang kaya yang begitu pelit terhadap sesama, pejabat tinggi yang
menyalahgunakan kedudukannya sebagai wakil rakyat, atau guru yang tak peduli
terhadap nasib anak-anak yang tak dapat mengenyam bangku sekolah, dan hanya
peduli pada sertifikasi maupun kenaikan pangkat. Sekolah tak lagi sebatas
bisnis yang dilembagakan untuk mencetak selembar ijazah. Generasi digital tak
lagi mengeluarkan berlusin lembar ratusan ribu sekadar untuk membeli tongsis
(tongkat narsis), gadget, dan
barang-barang lainnya yang sebenarnya tidak menjadi kebutuhan utama.
Karakter
kebangsaan melandasi fondasi pendidikan Indonesia yang baik dan terarah,
termasuk melalui perilaku terhadap pendidikan itu sendiri. Memberikan status
tinggi pada, baik guru maupun murid serta memiliki budaya pendidikan menjadi
salah satu contohnya. Budaya bahwa baik guru maupun murid sama-sama dihormati,
dan seluruh komponen, baik guru, murid, orang tua, dan bahkan media,
bertanggung jawab atas suatu kata bernama pendidikan.
Bila
telah demikian, maka tak lagi ada salah kaprah pendidikan yang sebatas dikotomi
antara guru dan murid, pelajaran dan ruang kelas. Bila telah demikian, maka tak
lagi ditemui karakter kebangsaan yang termarginalisasi dalam ruang kontemplasi.
Bila telah demikian, Indonesia tak lagi menyandang ‘berkembang’ dalam segala
aspek, namun tentunya melampaui itu. Bila telah demikian, maka Indonesia akan
seutuhnya baru dalam pelbagai, proses berpikir, proses mendewasa, proses
menjadi.
*****
esai ini menjadi Juara I dalam Lomba Penulisan Esai oleh BSC Unnes tingkat Jawa Tengah & DIY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar