kota ini abuabu
sementara di dadamu berbisik biru
dan legam mata yang malam
mengisyarat jejak semburat
angin berlalu basah
pada keheningan dan kedamaian yang melulu
aku diliputi basah
oleh gerimis yang jatuh terlambat
olehmu
kotamu abuabu
tapi dadaku memetik biru
SELUSIN ANTARA, BIBIRKU BIBIRMU
Masih kudapati senyummu di bibir cangkir. Rembulan separo pun tersenyum, memandang dingin pada sebuah percakapan yang tak kunjung berujung. Atau yang sejujurnya tak pernah benar-benar dimulai.
Masih kusiasati senyummu di bibir kaca. Menoreh tiap tiap kebekuan dengan dingin udara november. Pun hembus napas yang terekam di sudut sudut jendela. Ingin bebas. Mendadak retak kemudian.
Masih kunamai senyummu. Pada setiap pejalan. Pada setiap penjaja. Saling bertukar antara. Selusin bibir dan keping senyummu. Yang selalu kunamai, (mungkin) kehidupan.
AKU KANGEN DESEMBER, KAK
pertemukan aku dengan Tuhan
YANG TERSISA DARI GERIMIS, SENJA, DAN JAKARTA YANG LEMBAP
kota ini dik, mendulang beratus rindu
entah gerimis senja
entah bangku taman
pada akukau yang makin nisbi oleh waktu
oleh jarak
kota ini dik, menyusunmu menjadi musimmusim lain
semakin dingin
semakin asingmungkin kota ini sudah lama beranjak pulang
jauh dari gerimis senja
jauh dari bangku taman
yang samasama kita cumbui
samasama kita tinggalkan
HIMASNUR lahir di Semarang, 2 Desember 1995. Tercatat sebagai mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang.
Bianglala, Komidi Putar, dan Negeri Dongeng ialah kumpulan puisi tunggal perdananya.
Sosok mu menginspirasi
BalasHapus