Tak
ada yang lebih membahagiakan bagi Rafiq dan Sugigi selain pagi ini. Bagaimana tidak,
akhirnya mereka berdua, selebriti ibu kota ternama resmi menjadi pasutri
setelah beberapa bulan terakhir bersliweran
di siaran infotainment. Tentu
kebahagiaan tak lantas berhenti sampai disitu. Tak afdal bila telah mendeklarasikan
diri sebagai selebriti namun jauh dari kata ingar dan bingar. Enam ribu
undangan dipastikan hadir dalam resepsi pernikahan mereka. Rekan sesama
selebriti ibu kota, mantan-mantan pacar kedua mempelai, bahkan pejabat tinggi
turut menikmati kebahagiaan Rafiq dan Sugigi. Mereka tampil dengan kostum serba
diamond berlabel desainer-desainer
yang tak kalah ternamanya dengan para tamu undangan tersebut.
Tak
tanggung tanggung, Rafiq dan Sugigi bekerja sama dengan stasiun televisi
nasional untuk menyiarkan live event baik
persiapan, akad nikah, resepsi, bahkan mungkin malam pertama. Jadilah seluruh
elemen tanah air membentuk kurva antusiasme untuk menonton channel televisi tersebut. Terang saja, ini kali pertama masyarakat
disuguhi tayangan macam beginian. Masyarakat pun memiliki banyak alasan untuk
tidak melewatkan tayangan ini olehsebab di sesela acara selalu diselipi kuis
interaktif dengan hadiah ponsel layar sentuh keluaran anyar dengan fitur-fitur yang
memanjakan generasi digital untuk berselfie
maupun bergroovie ria.
Tampaknya
bahagia pagi ini tak hanya milik Rafiq dan Sugigi, namun milik masyarakat tanah
air, desainer-desainer ternama, perusahaan ponsel ‘tiongkok’ dan pemilik
stasiun televisi yang menyiarkan live
event, tentunya
***
Tak
seperti hari biasa, kantor kelurahan Maju Mundur Cantik tampak ramai dan penuh
sesak oleh euforia warga. Kali ini bukan untuk orasi sambil membakar foto wajah
sang pemilik kursi. Namun untuk hal yang lebih besar dan bersejarah. Dodok,
Lurah terpilih periode 2014 dan seterusnya, resmi dilantik pagi ini
menggantikan posisi Suknyilo. Arak-arakan telah disediakan [konon] cuma-cuma
oleh warga. Tengah dipersiapkan pula pangung mini untuk konser malam nanti,
bahkan biduan yang sedang naik daun dengan hits ‘sakitnya tuh di dompet’ dari
kelurahan tetangga itu [konon] dengan cuma-cuma turut memeriahkan panggung
mini. Kesemuanya dilakukan [konon] sebagai bentuk ungkapan syukur bahwa Dodok
resmi dilantik menjadi Lurah anyar kelurahan Maju Mundur Cantik.
Meski
sepenuhnya sadar bahwa yang mengantarnya sampai di kursi lurah sebenarnya hanya
suara dari separuh warganya, Dodok tak ambil pusing, dia tetap melangkah
mantap, semantap sumpah yang Ia nyatakan dibawah pedoman hidup -milik entah lembaga
entah sesiapa- tersebut. Dodok memainkan perannya dengan baik. Menjadi pemimpin
dan penentu kebijakan. Menjadi figur yang selalu digemari warga, sebab Ia tahu,
tugas kedepan tak jadi lebih mudah. Maka dirasa perlu sering sering bercokol
panggung mini buatan warga itu.
Layar
dibuka. Pemain musik telah siap sedari tadi. Sorot lampu memeluk penuh tubuh
biduan yang berdiri di tengah panggung. Pertunjukan yang sebenarnya, baru saja
dimulai. Dan Dodok, Lurah Maju Mundur Cantik, benar-benar memainkan perannya dengan sangat emejing.
***
Budi
segera memacu motor, meninggalkan sekolah menengah atas yang cukup favorit di
kotanya. Masih hangat dalam ingatan perihal percakapan dengan kepala sekolah
beberapa menit yang lalu. kepala sekolah yang tak lebih lama mengabdi di
sekolah itu dibanding dirinya. Nyuwun
sewu mas, sebenernya kami juga tidak ingin bila ektrakurikuler teater
ditiadakan, tapi nggih mau gimana lagi. Apa apa udah pakai dana BOS, tapi nggak
ada anggaran buat yang lain lain. guru guru juga lagi bingung ini nyari
tambahan darimana. Sekali lagi nyuwun sewu, mas.
Budi
merogoh saku jaketnya, mengecek amplop terakhir yang diberikan orang nomor satu
di sekolah itu masih setia mengada beserta seisinya. Entah kenapa dia merasa
khawatir bilamana sang amplop tiba-tiba entah ketinggalan entah terjatuh entah diambil
siswa iseng yang baru saja berlalu didepannya. Budi memandang nominal 132.000 dibawah
tulisan oktober pada amplop, terbayang istri dan keenam mulut anaknya yang
belum disumpal sejak siang kemarin. Sungguh, kado terindah baginya yang
menginjak angka 43 di pagi ini.
Budi
segera memacu motor, meninggalkan sekolah menengah atas yang memberinya gelar
guru honorer selama kurang lebih 20 tahun. Tak ada perayaan. Tak ada salam
perpisahan. Tak ada tangis kehilangan.
*****
Suatu
pagi di sebuah oktober yang biasa biasa saja, segalanya berlangsung [seolah]
biasa saja.
Tulisan sendiri sebagai cermin, karya bagus. lumba-lumbanya lucu. desain blog pun tidak terlalu ramai dan tidak juga terlalu sepi.
BalasHapus