Selasa, 09 Desember 2014

SUATU PAGI DI SEBUAH OKTOBER YANG BIASA BIASA SAJA




 Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Rafiq dan Sugigi selain pagi ini. Bagaimana tidak, akhirnya mereka berdua, selebriti ibu kota ternama resmi menjadi pasutri setelah beberapa bulan terakhir bersliweran di siaran infotainment. Tentu kebahagiaan tak lantas berhenti sampai disitu. Tak afdal bila telah mendeklarasikan diri sebagai selebriti namun jauh dari kata ingar dan bingar. Enam ribu undangan dipastikan hadir dalam resepsi pernikahan mereka. Rekan sesama selebriti ibu kota, mantan-mantan pacar kedua mempelai, bahkan pejabat tinggi turut menikmati kebahagiaan Rafiq dan Sugigi. Mereka tampil dengan kostum serba diamond berlabel desainer-desainer yang tak kalah ternamanya dengan para tamu undangan tersebut. 

Tak tanggung tanggung, Rafiq dan Sugigi bekerja sama dengan stasiun televisi nasional untuk menyiarkan live event baik persiapan, akad nikah, resepsi, bahkan mungkin malam pertama. Jadilah seluruh elemen tanah air membentuk kurva antusiasme untuk menonton channel televisi tersebut. Terang saja, ini kali pertama masyarakat disuguhi tayangan macam beginian. Masyarakat pun memiliki banyak alasan untuk tidak melewatkan tayangan ini olehsebab di sesela acara selalu diselipi kuis interaktif dengan hadiah ponsel layar sentuh keluaran anyar dengan fitur-fitur yang memanjakan generasi digital untuk berselfie maupun bergroovie ria.   

Tampaknya bahagia pagi ini tak hanya milik Rafiq dan Sugigi, namun milik masyarakat tanah air, desainer-desainer ternama, perusahaan ponsel ‘tiongkok’ dan pemilik stasiun televisi yang menyiarkan live event, tentunya

***

Tak seperti hari biasa, kantor kelurahan Maju Mundur Cantik tampak ramai dan penuh sesak oleh euforia warga. Kali ini bukan untuk orasi sambil membakar foto wajah sang pemilik kursi. Namun untuk hal yang lebih besar dan bersejarah. Dodok, Lurah terpilih periode 2014 dan seterusnya, resmi dilantik pagi ini menggantikan posisi Suknyilo. Arak-arakan telah disediakan [konon] cuma-cuma oleh warga. Tengah dipersiapkan pula pangung mini untuk konser malam nanti, bahkan biduan yang sedang naik daun dengan hits ‘sakitnya tuh di dompet’ dari kelurahan tetangga itu [konon] dengan cuma-cuma turut memeriahkan panggung mini. Kesemuanya dilakukan [konon] sebagai bentuk ungkapan syukur bahwa Dodok resmi dilantik menjadi Lurah anyar kelurahan Maju Mundur Cantik.

Meski sepenuhnya sadar bahwa yang mengantarnya sampai di kursi lurah sebenarnya hanya suara dari separuh warganya, Dodok tak ambil pusing, dia tetap melangkah mantap, semantap sumpah yang Ia nyatakan dibawah pedoman hidup -milik entah lembaga entah sesiapa- tersebut. Dodok memainkan perannya dengan baik. Menjadi pemimpin dan penentu kebijakan. Menjadi figur yang selalu digemari warga, sebab Ia tahu, tugas kedepan tak jadi lebih mudah. Maka dirasa perlu sering sering bercokol panggung mini buatan warga itu.

Layar dibuka. Pemain musik telah siap sedari tadi. Sorot lampu memeluk penuh tubuh biduan yang berdiri di tengah panggung. Pertunjukan yang sebenarnya, baru saja dimulai. Dan Dodok, Lurah Maju Mundur Cantik, benar-benar memainkan perannya dengan sangat emejing.

***

Budi segera memacu motor, meninggalkan sekolah menengah atas yang cukup favorit di kotanya. Masih hangat dalam ingatan perihal percakapan dengan kepala sekolah beberapa menit yang lalu. kepala sekolah yang tak lebih lama mengabdi di sekolah itu dibanding dirinya. Nyuwun sewu mas, sebenernya kami juga tidak ingin bila ektrakurikuler teater ditiadakan, tapi nggih mau gimana lagi. Apa apa udah pakai dana BOS, tapi nggak ada anggaran buat yang lain lain. guru guru juga lagi bingung ini nyari tambahan darimana. Sekali lagi nyuwun sewu, mas.

Budi merogoh saku jaketnya, mengecek amplop terakhir yang diberikan orang nomor satu di sekolah itu masih setia mengada beserta seisinya. Entah kenapa dia merasa khawatir bilamana sang amplop tiba-tiba entah ketinggalan entah terjatuh entah diambil siswa iseng yang baru saja berlalu didepannya. Budi memandang nominal 132.000 dibawah tulisan oktober pada amplop, terbayang istri dan keenam mulut anaknya yang belum disumpal sejak siang kemarin. Sungguh, kado terindah baginya yang menginjak angka 43 di pagi ini.  

Budi segera memacu motor, meninggalkan sekolah menengah atas yang memberinya gelar guru honorer selama kurang lebih 20 tahun. Tak ada perayaan. Tak ada salam perpisahan. Tak ada tangis kehilangan.   

*****

Suatu pagi di sebuah oktober yang biasa biasa saja, segalanya berlangsung [seolah] biasa saja.

1 komentar:

  1. Tulisan sendiri sebagai cermin, karya bagus. lumba-lumbanya lucu. desain blog pun tidak terlalu ramai dan tidak juga terlalu sepi.

    BalasHapus