Selasa, 16 Desember 2014

Puisi Himas Nur dalam Media Indonesia edisi 7 Desember 2014

JAKARTA DUA DESEMBER DUA RIBU SEBELAS

kota ini abuabu
sementara di dadamu berbisik biru
dan legam mata yang malam
mengisyarat jejak semburat

angin berlalu basah
pada keheningan dan kedamaian yang melulu
aku diliputi basah
oleh gerimis yang jatuh terlambat
olehmu

kotamu abuabu
tapi dadaku memetik biru



SELUSIN ANTARA, BIBIRKU BIBIRMU

Masih kudapati senyummu di bibir cangkir. Rembulan separo pun tersenyum, memandang dingin pada sebuah percakapan yang tak kunjung berujung. Atau yang sejujurnya tak pernah benar-benar dimulai.

Masih kusiasati senyummu di bibir kaca. Menoreh tiap tiap kebekuan dengan dingin udara november. Pun hembus napas yang terekam di sudut sudut jendela. Ingin bebas. Mendadak retak kemudian.

Masih kunamai senyummu. Pada setiap pejalan. Pada setiap penjaja. Saling bertukar antara. Selusin bibir dan keping senyummu. Yang selalu kunamai, (mungkin) kehidupan.


AKU KANGEN DESEMBER, KAK

pertemukan aku dengan Tuhan


YANG TERSISA DARI GERIMIS, SENJA, DAN JAKARTA YANG LEMBAP

kota ini dik, mendulang beratus rindu
entah gerimis senja
entah bangku taman
pada akukau yang makin nisbi oleh waktu
oleh jarak

kota ini dik, menyusunmu menjadi musimmusim lain
semakin dingin
semakin asing

mungkin kota ini sudah lama beranjak pulang
jauh dari gerimis senja
jauh dari bangku taman
yang samasama kita cumbui
samasama kita tinggalkan



HIMASNUR lahir di Semarang, 2 Desember 1995. Tercatat sebagai mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang.
Bianglala, Komidi Putar, dan Negeri Dongeng
ialah kumpulan puisi tunggal perdananya.

1 komentar: