Dalam
politik, tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Kalau satu peristiwa
terjadi, Anda tak perlu ragu bahwa hal itu memang telah direncanakan demikian
[Franklin D. Roosevelt]
Ada
yang menarik dengan bulan Desember selain hujan dan senjanya. Setelah beberapa
waktu lalu –dan atau hingga kini- gejolak dua kubu dan drama demokrasi begitu
ingar bingar di layar media. Kini giliran para –yang oleh banyak orang sebut
sebagai- agent of change menyuguhkan
demokrasinya melalui pemilihan ketua organisasi kampus, baik setingkat perguruan
tinggi, fakultas, maupun jurusan. Tak terkecuali dengan salah satu kampus berlabel
konservasi, yang konon katanya, banyak melahirkan pahlawan tanpa tanda jasa.
Jejalan
disekitar kampus seketika begitu riuh oleh baliho, poster, spanduk, dan
kawan-kawannya. Pun dengan majalah dinding, gazebo, dan tempat wai-fai-an yang tampak penuh sesak oleh pamflet
dan wajah-wajah sumringah para calon
pemimpin tersebut, lengkap dengan visi, misi, dan jargonnya masing-masing. Tak lupa
tanda pagar [hashtag] selalu
disematkan di bagian bawah pojok. Membuat si pemilik wajah tampak makin gaul,
atau yah setidaknya membuat konten terlihat makin ramai.
Tak
sedikit pula yang memanfaatkan fasilitas short
message service maupun fitur obrolan
lainnya yang banyak berumah di telepon pintar masa kini, tentu tetap dengan
tagar [tanda pagar] diakhir pesan. Ada pula diantara para calon pemimpin ini yang
masih konvensional, namun pendekatan yang dipakainya justru tak perlu merogoh
saku untuk mencetak pamflet, membeli pulsa, dan tetekbengek lainnya. Bahkan mungkin merupakan metode yang paling
ampuh, ya mouth to mouth. Sayangnya,
pendekatan ini tampaknya tak begitu bersahabat dengan tanda pagar. Hehehe…
Melihat
para calon yang tampak bersemangat dalam mengampanyekan dirinya, maka dapat
dilihat pula bahwa para calon pemimpin tersebut begitu bersemangat untuk
melakukan suatu perubahan. Ah, ya ya ya… perubahan. Sebuah kata yang nampaknya
asyik bersliweran tiap masa kampanye
mulai didengungkan. Sebuah kata yang rasa-rasanya paling digemari oleh para
bakal pemimpin, bahkan tanpa disadari, kitapun mengamininya.
“Perubahan”
menjelma deretan panjang yang biasa kita kenal dengan sebutan: harapan. Harapan
agar segala yang mengada menjadi lebih baik. Mengubah apa-apa yang dianggap
belum begitu baik di periode sebelumnya supaya menjadi dianggap baik oleh
periode selanjutnya. Ah... lagi-lagi semua perihal anggapanmu-angapanku, menurutmu-menurutku.
Sedikit-banyak ideologi dan cara berpikir sang pemimpin menentukan kearah mana
kursi akan dihadapkan.
Namun
sebenarnya, perubahan yang seperti apa. Apa
yang harus diubah. Siapa yang mengubah atau siapa yang harus diubah. Bagaimana
cara mengubahnya. Mengapa ada yang diubah. Mengapa harus ada perubahan. Ya,
Mengapa. Bukankah kita telah nyaman dengan pelbagai ritual dan
tradisi-tradisi itu. Menyelenggarakan acara, masuk kepanitiaan, menyusun
anggaran, berangkat rapat, pulang malam, menyelesaikan jobdesk, evaluasi, menyelenggarakan acara lagi, masuk kepanitiaan
lagi, menyusun anggaran lagi,….lagi….lagi. Ah, sekadar itukah yang dilakukan[?]
***
Organisasi
kemahasiswaan memiliki fungsinya yang paling strategis sebagai penyampai
informasi, penaung aspirasi, serta jembatan antara mahasiswa dengan pihak
birokrat perguruan tinggi. Ihwal ini tentu (seharusnya) menjadikan anggotanya
mengemban tanggung jawab yang tak main-main, terlebih oleh para calon pemimpin
yang akan dipilih beberapa hari kedepan ini.
Namun
akan menjadi suatu kecelakaan ketika pemilihan setahun sekali itu pun menjadi
sekadar ritus yang melelahkan dan bahkan membosankan. Maka tak heran bila
suara, dari tahun ke tahunnya statis atau bahkan menurun. Populasi mahasiswa
dengan pola pikir nggak tau - nggak mau
cari tau - nggak mau tau, rupanya kian hari kian merebak. Budaya kritis dan
sikap apatis, tampaknya menjadi dua dunia yang saling berseberangan sekaligus bebarengan
ketika dihadapkan pada suatu makhluk bermaujud: mahasiswa.
Lalu
bagaimana dengan sang bakal pemimpin yang akhirnya terpilih. Setelah wajahnya
begitu intens menghiasi layar mata selama beberapa pekan, lalu terpilih, melaksanakan
program kerja yang tak lain membiakkan tradisi yang berlarut-larat, selang
berapa waktu, sang pemimpin seketika hilang, mendadak lenyap kemudian.
Sementara visi-misi telah lebih dulu tertinggal di baliho, pamflet, spanduk,
dan kawan-kawannya itu. Begitukah? Ah, nampaknya yang masih perlu dipupuk
disini ialah Kepercayaan.
Kepercayaan
bertindak sebagai hakim garis dalam mengawal kekuasaan. Celakanya, -mengutip
kicauan SBY yang seolah sedang menyindir era pemerintahan kini- kepercayaan
yang berlebih dengan selalu menganggap benar kebijakan pemimpin, justru
berpotensi melahirkan kepemimpinan diktator dan tirani.
Namun
bagaimanapun, apresiasi perlu diangkat setinggi-tingginya terhadap keberanian
para calon pemimpin tersebut. Meskipun mereka tentu memiliki tujuan yang
berbeda-beda dalam menyalonkan diri, namun menjadi lumrah olehsebab setiap
individu tentu memiliki kepentingannya masing-masing. Yah, setidaknya masih ada
yang menentukan pilihan untuk mengabdi dengan cara ‘terjun langsung’ ke
pusatnya. Entah nanti akan menjadi trendsetter
atau follower, itu soal kedua.
Setidaknya, bila kelak kursi telah diduduki, Anda tak lantas dengan seenak udel berujar “Ini Bukan Urusan Saya”.
Himas Nur. Mantan
golongan putih.
Berencana mengawal
‘pemerintahan' melalui hal-hal seperti ini
Tepat sekali apa yang dikatakan Himas. Mungkin tidak semua 'calon' pemimpin yang kemudian menjadi 'pemimpin' akan melaksanakan semua ujarnya ketika berkampanye. Pun dengan kebijakan-kebijakan yang mereka buat tidak selamanya sejalan dengan pemikiran kita yang notabene sebagai rakyat. Itulah fungsi kita, rakyat, sebagai kontrol sosial untuk mengawal 'pergerakan' pemimpin kita. Dengan berjalannya fungsi itu, kita dapat sdikit demi sedikit merajut kesejahteraan.
BalasHapusSelamat, teruskan perjuangan kakak Himas sebagai pengawal 'pemerintahan'.
selamat jadi SC PPA 2015 kakaak
BalasHapusWah menarik sekali postingannya. Benar-benar kritikus :D
BalasHapusMasih menunggu tulisan-tulisan yang lainnya ;)
sedang menunggu juga karya-karyamu :)
BalasHapus