Selasa, 09 Desember 2014

MENUJU -1

Dalam politik, tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Kalau satu peristiwa terjadi, Anda tak perlu ragu bahwa hal itu memang telah direncanakan demikian [Franklin D. Roosevelt]

Ada yang menarik dengan bulan Desember selain hujan dan senjanya. Setelah beberapa waktu lalu –dan atau hingga kini- gejolak dua kubu dan drama demokrasi begitu ingar bingar di layar media. Kini giliran para –yang oleh banyak orang sebut sebagai- agent of change menyuguhkan demokrasinya melalui pemilihan ketua organisasi kampus, baik setingkat perguruan tinggi, fakultas, maupun jurusan. Tak terkecuali dengan salah satu kampus berlabel konservasi, yang konon katanya, banyak melahirkan pahlawan tanpa tanda jasa. 

Jejalan disekitar kampus seketika begitu riuh oleh baliho, poster, spanduk, dan kawan-kawannya. Pun dengan majalah dinding, gazebo, dan tempat wai-fai-an yang tampak penuh sesak oleh pamflet dan wajah-wajah sumringah para calon pemimpin tersebut, lengkap dengan visi, misi, dan jargonnya masing-masing. Tak lupa tanda pagar [hashtag] selalu disematkan di bagian bawah pojok. Membuat si pemilik wajah tampak makin gaul, atau yah setidaknya membuat konten terlihat makin ramai.

Tak sedikit pula yang memanfaatkan fasilitas short message service maupun fitur obrolan lainnya yang banyak berumah di telepon pintar masa kini, tentu tetap dengan tagar [tanda pagar] diakhir pesan. Ada pula diantara para calon pemimpin ini yang masih konvensional, namun pendekatan yang dipakainya justru tak perlu merogoh saku untuk mencetak pamflet, membeli pulsa, dan tetekbengek lainnya. Bahkan mungkin merupakan metode yang paling ampuh, ya mouth to mouth. Sayangnya, pendekatan ini tampaknya tak begitu bersahabat dengan tanda pagar. Hehehe…

Melihat para calon yang tampak bersemangat dalam mengampanyekan dirinya, maka dapat dilihat pula bahwa para calon pemimpin tersebut begitu bersemangat untuk melakukan suatu perubahan. Ah, ya ya ya… perubahan. Sebuah kata yang nampaknya asyik bersliweran tiap masa kampanye mulai didengungkan. Sebuah kata yang rasa-rasanya paling digemari oleh para bakal pemimpin, bahkan tanpa disadari, kitapun mengamininya.

“Perubahan” menjelma deretan panjang yang biasa kita kenal dengan sebutan: harapan. Harapan agar segala yang mengada menjadi lebih baik. Mengubah apa-apa yang dianggap belum begitu baik di periode sebelumnya supaya menjadi dianggap baik oleh periode selanjutnya. Ah... lagi-lagi semua perihal anggapanmu-angapanku, menurutmu-menurutku. Sedikit-banyak ideologi dan cara berpikir sang pemimpin menentukan kearah mana kursi akan dihadapkan.   

Namun sebenarnya, perubahan yang seperti apa. Apa yang harus diubah. Siapa yang mengubah atau siapa yang harus diubah. Bagaimana cara mengubahnya. Mengapa ada yang diubah. Mengapa harus ada perubahan. Ya, Mengapa. Bukankah kita telah nyaman dengan pelbagai ritual dan tradisi-tradisi itu. Menyelenggarakan acara, masuk kepanitiaan, menyusun anggaran, berangkat rapat, pulang malam, menyelesaikan jobdesk, evaluasi, menyelenggarakan acara lagi, masuk kepanitiaan lagi, menyusun anggaran lagi,….lagi….lagi. Ah, sekadar itukah yang dilakukan[?]

***

Organisasi kemahasiswaan memiliki fungsinya yang paling strategis sebagai penyampai informasi, penaung aspirasi, serta jembatan antara mahasiswa dengan pihak birokrat perguruan tinggi. Ihwal ini tentu (seharusnya) menjadikan anggotanya mengemban tanggung jawab yang tak main-main, terlebih oleh para calon pemimpin yang akan dipilih beberapa hari kedepan ini.  

Namun akan menjadi suatu kecelakaan ketika pemilihan setahun sekali itu pun menjadi sekadar ritus yang melelahkan dan bahkan membosankan. Maka tak heran bila suara, dari tahun ke tahunnya statis atau bahkan menurun. Populasi mahasiswa dengan pola pikir nggak tau - nggak mau cari tau - nggak mau tau, rupanya kian hari kian merebak. Budaya kritis dan sikap apatis, tampaknya menjadi dua dunia yang saling berseberangan sekaligus bebarengan ketika dihadapkan pada suatu makhluk bermaujud: mahasiswa.   

Lalu bagaimana dengan sang bakal pemimpin yang akhirnya terpilih. Setelah wajahnya begitu intens menghiasi layar mata selama beberapa pekan, lalu terpilih, melaksanakan program kerja yang tak lain membiakkan tradisi yang berlarut-larat, selang berapa waktu, sang pemimpin seketika hilang, mendadak lenyap kemudian. Sementara visi-misi telah lebih dulu tertinggal di baliho, pamflet, spanduk, dan kawan-kawannya itu. Begitukah? Ah, nampaknya yang masih perlu dipupuk disini ialah Kepercayaan.  

Kepercayaan bertindak sebagai hakim garis dalam mengawal kekuasaan. Celakanya, -mengutip kicauan SBY yang seolah sedang menyindir era pemerintahan kini- kepercayaan yang berlebih dengan selalu menganggap benar kebijakan pemimpin, justru berpotensi melahirkan kepemimpinan diktator dan tirani.

Namun bagaimanapun, apresiasi perlu diangkat setinggi-tingginya terhadap keberanian para calon pemimpin tersebut. Meskipun mereka tentu memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam menyalonkan diri, namun menjadi lumrah olehsebab setiap individu tentu memiliki kepentingannya masing-masing. Yah, setidaknya masih ada yang menentukan pilihan untuk mengabdi dengan cara ‘terjun langsung’ ke pusatnya. Entah nanti akan menjadi trendsetter atau follower, itu soal kedua. Setidaknya, bila kelak kursi telah diduduki, Anda tak lantas dengan seenak udel berujar “Ini Bukan Urusan Saya”.   


Himas Nur. Mantan golongan putih.
Berencana mengawal ‘pemerintahan' melalui hal-hal seperti ini

4 komentar:

  1. Tepat sekali apa yang dikatakan Himas. Mungkin tidak semua 'calon' pemimpin yang kemudian menjadi 'pemimpin' akan melaksanakan semua ujarnya ketika berkampanye. Pun dengan kebijakan-kebijakan yang mereka buat tidak selamanya sejalan dengan pemikiran kita yang notabene sebagai rakyat. Itulah fungsi kita, rakyat, sebagai kontrol sosial untuk mengawal 'pergerakan' pemimpin kita. Dengan berjalannya fungsi itu, kita dapat sdikit demi sedikit merajut kesejahteraan.
    Selamat, teruskan perjuangan kakak Himas sebagai pengawal 'pemerintahan'.

    BalasHapus
  2. Wah menarik sekali postingannya. Benar-benar kritikus :D
    Masih menunggu tulisan-tulisan yang lainnya ;)

    BalasHapus