Selasa, 09 Desember 2014

HOREY! MAFIA SASTRA MENYERANG SEMARANG



Ini kali pertama sebuah kota semacam semarang, mendeklarasikan –atau dideklarasikan- dirinya sebagai tuan rumah penyelenggara kompetisi baca puisi tingkat nasional. Dengan total hadiah 50 jeti. Huwow! Tentu ini perkara luar biasa, memandang semarang tak biasanya mengapresiasi para pemanggung puisi, terlebih dengan nominal yang terbilang fantastis. Berlatar November hari kesepuluh dan cerita sejarah yang mengalir didalamnya, sebuah entah, komunitas, forum, himpunan mahasiswa, danatau entah entah yang lain, menyelenggarakan kompetisi akbar ini. Kurang-lebih 150 peserta turut andil dalam membantu [seperempat] biaya operasional kompetisi tersebut melalui biaya pendaftaran yang sangat cukup untuk menguras uang saku anak kos-an. Yah, itupun bila keseratus-limapuluh tadi benar benar peserta tulen. Hihihi…
 
Kompetisi ini berjurikan 2 orang penyair yang karyanya menjadi pilihan puisi yang musti dibacakan peserta, dan 1 orang diambil dari dosen sastra di semarang. Hmm.. benar-benar komposisi yang ciamik dan menarik. Seperti lomba yang lain lain, diadakan temu teknik atau bahasa kecenya technical meeting (TM) sehari sebelum pelaksanaan. Namun sayang jadwal tersebut ternyata hanya berlaku sampai juklak juknis selesai dibuat saja. TM digelar pada hari yang sama dengan dimulainya kompetisi. Alhasil, pagi hari digunakan untuk TM dan siangnya kompetisi berlangsung. Namun lagi-lagi sayang, sepertinya banyak sebab yang melanda kompetisi ini, hingga panitia ketagihan untuk mengubah rundown acara lagi –itupun bila ada rundown-. Kompetisi (kembali) diundur hingga jarum jam menunjuk tiga dan duabelas. Ya,  sejak mula memang telah kentara bahwa ada yang janggal dari mengadanya kompetisi ini.

Malam telah tutup, pun dengan babak penyisihan. Esoknya kesepuluh finalis diumumkan untuk meraih 7 penghargaan, yakni juara 1, 2, 3, juara favorit, juara harapan 1, 2 dan…eits, wait a minute! Bukankah juaranya hanya ada tiga ? itu jelas terpampang nyata bebarengan dengan 25 juta 15 juta dan 10 juta yang berada di bawah tulisan juara 1, 2, 3 dengan font yang sedikit lebih kecil itu. Uh, iya! yang terpampang nyata itu kan baru sebatas berwujud poster dan juklak juknis saja. Lagipula toh panitia berhak mengubah peraturan tanpa pemberitahuan sebelumnya, dan keputusan final sudah barang pasti tak dapat diganggu gugat. Hahaha.. ya ya ya, sangat berhak!

Oh iya, rasanya belum afdal bila peserta yang turut menyemarakkan kompetisi ini tak ikut dilibatkan dalam pembicaraan. Hihihi… baiklah. Mengingat acara ini bertajuk skala nasional dan umum, tentu saja peserta datang dari penjuru nusantara, dan dari pelbagai lini profesi, pelajar, mahasiswa, akademisi, seniman –bila itu disebut profesi-. Mereka mewakili komunitas, universitas, maupun institusi dimana mereka bernaung. Namun tak sedikit pula yang mewakili dirinya sendiri.

Untuk bisa tersebut sebagai peserta, mereka pun terbagi menjadi beberapa golongan. Wah sudah macam pegawai negeri saja ya, hihihi… golongan pertama ialah Para Pemburu. Mereka inilah yang melancong dari satu kota ke kota lain. Bahkan tak sedikit yang sampai singgah ke KL, Sydney, Brunei, dan negara tetangga lainnya. Pelbagai event sastra, baik perlombaan, diskusi,  proyek pembukuan karya, dan pertemuan penyair sengaja mereka ikuti, tak peduli dengan penyelenggaraan yang kecil-kecilan sekalipun. Dan seketika, mereka akan memiliki banyak relasi dan menemukan ternyata ada banyak spesies sepertinya di berbagai daerah yang dikunjungi, atau yah setidaknya nama mereka tercatat di buku tamu. Sungguh golongan yang tangguh dan hebat! dengan uang saku yang cukup berlebih pula pastinya.

Golongan kedua ialah Para Pelaku. Biasanya beranggotakan para pelajar bahkan mahasiswa, yang diutus mewakili sekolah maupun perguruan tingginya. Secara logistik, para peserta yang berasal dari golongan ini biasanya telah tercukupi dari mulai biaya pendaftaran, transport, bahkan pelatih. Namun yah, apapun harus ada bayaran dari setiap kenikmatan yang didapatkan. Maka wajar, bila golongan ini tak begitu melihat kondisi sekitar yang ada di tiap-tiap kompetisi. Yang penting pulang bisa membawa oleh-oleh untuk kepala sekolah dan guru bahasa Indonesianya.

Golongan yang ketiga ini berbeda dengan dua golongan sebelumnya. Mereka justru memakai keluguan sebagai sampul mukanya. Hm bagaimana ya menjelaskannya, hmm.. Hei! wait a minute! Peserta-peserta ini terlihat hmm.. lucu! Wanita-wanitanya bergaya seragam, pun dengan beberapa laki-lakinya. Dan yang paling menggelikan ialah dialek dan ragam cakap yang digunakan. Ya, peserta-peserta yang mengaku datang dari Pontianak, Riau, Madura, serta separuh lain dari total peserta yang ada. Daerah yang berbeda, dengan dialek yang seragam. Dialek orang-orang Jekardah. Tampaknya dandanan serta dialek tak bisa diajak kompromi dalam praktik macam begituan.

Ah, ya ya ya itu tadi karakteristik peserta golongan ketiga. Mereka biasa disebut sebagai golongan ‘yang berada di dalam lingkaran’. Dan sebenarnya masih ada satu golongan lagi sih. Namun, Uh! Alih-alih ingin mengungkap kebenaran, nanti justru dikira rasis dan lain sebagainya lagi. Hihihi..

Ya, pernah ada seorang berkata bahwa untuk mengetahui kebenaran diperlukan keraguan dan kecurigaan. Benar juga sih, bila ragu dan tak mudah yakin pada apa yang tampak mata, maka yang timbul ialah keinginan untuk mencari tahu kebenaran disebaliknya. Namun kebenaran selamanya akan selalu menyakitkan. Ah, ya ya ya. Sayangnya ini yang membuat banyak orang tak jadi banting setir untuk memilih bersikap ragu dan curiga.

Kembali membincang kompetisi yang memiliki tujuan mulia itu tadi. Ya tentu saja, bukankah mengenang jasa-jasa pahlawan itu sesuatu yang mulia –meski pahlawan yang dikenang memiliki kontroversi dengan kebenaran sejarah sekalipun-. Satupersatu finalis diumumkan sekaligus langsung membacakan puisi yang dipilihnya. Hingga finalis keduapuluh maju, dan makin mengeraslah tawa para peserta golongan keempat. Hahaha.. ya! Binggou! Mafia Sastra Menyerang Semarang. Hahaha!   
Yaa.. mungkin memang terkesan berlebihan. Karna yah, ihwal macam beginian telah lalulalu mengada di kota ini, pastinya dengan segel yang berbeda, dengan merek yang tak sama, dan tentunya dengan budget yang tak seberapa. Hihihi… Ah, tiba-tiba saja ihwal ini mengingatkan kembali akan kenangan perihal proyek pembukuan karya berbau tolak menolak dan tournya ke berbagai sekolah-sekolah, serta yang masih mesra dalam ingatan, yakni perihal bilangan 33.

Namun segalanya seperti tak ada apa-apa bagi golongan Para Pemburu dan Para Pelaku. Ah, rupanya mereka benar-benar dilatih untuk sekadar lihai membaca puisi, sementara nihil ketika membaca situasi. Bagi mereka, ini berarti belum rezeki. Duh!

Sementara bagi keduapuluh finalis yang.. hey! Bukankah itu peserta asal Tegal dengan dialek Jekardah? Dan.. Huwow, mereka berada di kelompok kursi melingkar yang sama! Finalis pertama, finalis kedua, finalis ketiga, finalis keempat, finalis kelima, finalis… dan Ah! Bukankah para peserta yang sedang berada di kelompok kursi melingkar yang sama merupakan teman sepermainan sang juri. Emejing!

Finalis-finalis yang Uh! Bajidut! Membaca dan cara untuk membacanya benar-benar mengerikan. Hihihi.. Yah, bukan apa-apa sebenarnya. Saya hanya prihatin dengan salah satu juri yang cukup banyak diakui integritasnya di bidang sastra .Saya prihatin. Sungguh! Namun untuk dua lainnya, ah aroma itu sudah tercium sejak mula. Begitu kasar. Sungguh. Begitu terpampang nyata. Terimakasih telah membuat ini jadi lebih mudah. Hihihi..

Ya ya ya Mafia Sastra di Semarang. Benar-benar berkah di bulan sejarah. Tentu semarang patut bersyukur. Sebab menjadi yang terpilih dan dipercaya sebagai tuan rumah. Tentu ini meningkatkan omzet penjualan tiket bus antarkota, tempat penginapan, maupun pedagang angkringan di sekitar tempat kompetisi. Terang saja, bila orang nomor satu di kota ini pun turut menyumbangkan dana untuk pemenang juara favorit. Hihihi..

Maka, berhati-hatilah! Ah, tidak. Maksud saya, bersukacitalah. Sebab mungkin saja esok hari giliran daerahmu yang menjadi tuan rumah. Dan sangat mungkin pula, bila komunitasmu terpilih menjadi panitia pelaksananya. Bersiap-siaplah!

Dan ah, sampai lupa. Sebelum bersiap-siap, baiknya, untuk mengenang 10 November, Marilah kita mengheningkan cipta sejenak!


Himas Nur. dari golongan tak terdefinisi.

5 komentar:

  1. hemmm.... bagus.. bagus .. bagus himas. ketika membaca banyak pengetahuan yang dapat dipetik, dan tulisan-tulisan yang diungkapkan sebagai sindirin oarang-orang diluaran sana.

    BalasHapus
  2. tulisannya renyah banget, enak dinikmati :)
    semangat berkarya

    BalasHapus
  3. makasiih :D semangart juga buat temen-temen buat berkarya terus :)

    BalasHapus
  4. blog yang bagus, berisi, bacaan yang delicious. semangat buat pengelolanya ....

    #isthebest:)

    BalasHapus
  5. hehe trimakasih, mohon selalu kritik dan sarannya ya :D

    BalasHapus